Sanariah Perempuan Penjaga Warisan Pengetahuan Tradisional
Saat matahari pagi belum menampakan silaunya, Sanariah sudah beraktivitas di dapur. Menyalakan api tungku dan memanaskan air untuk menyiapkan suguhan kopi dan penganan untuk sarapan bagi orang rumah. Aktivitas Sanariah ini hal yang lumrah, sudah menjadi kebiasan Masyarakat Desa Paring Raya, Seruyan, Kalimantan Tengah. Setelah beres dengan urusan dapur, Sanariah menyiapkan peralatan untuk mengawali hari kerjanya. Bukan kerja pabrik atau perkebunan milik perusahaan, tapi interaksi langsung dengan alam hutan, kebun dan ladangnya.
Langkah kakinya turun bersamaan dengan sinar mentari yang menyelinap dari rimbunnya pepohonan di belakang rumahnya. Hari itu, Sanariah punya rencana mengunjungi lahan pertaniannya yang sudah ditanami padi ladang dan sekalian mencari rotan dan bamban yang tumbuh banyak di hutan sekitar kampung. Tanaman-tanaman itu jadi bahan kerajinan tangan, melimpah tersedia di alam seputar kampung. Selain berkebun dan berladang, Sanariah rajin membuat kerajinan tangan berupa tas, tikar, dompet, dan topi.
“Ada banyak bisa didapat seperti rotan, bamban, talam liar. Masih banyak di sekitar sini,” ungkap Sanariah.

Tangan-tangan Sanariah begitu lihai menganyam sebuah pesanan tas. Foto:Zulkifli M.
Menganyam adalah salah satu aktivitas kreatif yang masih dipertahankan oleh masyarakat khususnya para perempuan desa di Paring Raya. Keterampilan ini umumnya dimiliki oleh ibu-ibu dan beberapa remaja Perempuan, yang mereka peroleh secara turun-temurun dari keluarga dan kemudian terus dikembangkan melalui pengalaman serta pelatihan. Sanariah salah satu perempuan itu, dia turut mengajarkan perempuan desa untuk terus menganyam dalam setiap sesi pelatihan yang digagasnya.
“Awalnya memang tidak tahu, kan. Tapi karena sering lihat orang tua dulu dan belajar sekarang jadi lancar,” katanya.
Dari bahan rotan, pengrajin dapat menghasilkan lembaran anyaman yang belum dibentuk menjadi produk tertentu. Lembaran tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tas, dompet, sandal, sepatu, dan berbagai produk lainnya.
Proses pembuatan setiap produk membutuhkan waktu yang berbeda-beda tergantung jenis, ukuran, dan tingkat kerumitan anyaman. Untuk membuat satu tas, misalnya, pengrajin membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Pembuatan tikar membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh hari, sedangkan lanjung dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu. Sanariah pernah bilang bahwa dari semua produk yang dia hasilkan itu, sepatu paling sulit secara teknis.
Kerajinan tangan masyarakat adalah produk pengetahuan tradisional yang berkelindan dengan sistem sosialnya, dikenal sebagai traditional occupation. Alam jadi sumbernya. Misalnya, buah rambutan yang masih muda atau belum matang adalah bahan pewarna alami. Buah tersebut direbus hingga menghasilkan warna hitam yang dapat digunakan untuk memberikan warna pada bahan anyaman. Motif anyaman bersumber dari sejarah, mitos dan tradisi. Pemanfaatan bahan alami ini menunjukkan adanya interaksi dengan alam menghasilkan pengetahuan lokal. Kerajian tangan salah satu saja dari artefak traditional occupation masyarakat, khususnya kaum perempuan.
Kegiatan menganyam tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian keterampilan dan pengetahuan lokal, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga pengrajin. Produk yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi maupun rumah tangga, tetapi telah memiliki pasar dan diminati oleh masyarakat di luar desa, bahkan telah dipasarkan ke sejumlah wilayah di luar pulau Kalimantan seperti Jakarta dan Jawa.
“Hasilnya lumayan membantu ekonomi ibu-ibu rumahan. Kalau saya sendiri satu bulan bisa mendapatkan hasil penjualan paling kecil 1 juta, tergantung pesanan. Semakin banyak maka keuntungan makin banyak,” ucap Sanariah sambil tersenyum.
Sanariah bukanlah orang yang pantang menyerah, meski sudah berumur 55 tahun. Perempuan itu terlalu aktif di masa tuanya. Dia juga membuat usaha rumahan seperti abon ikan toman (tahuman bahasa lokal) dan sambal ikan baung, serta membantu memasarkan hasil produk gula aren olahan para petani aren di kampungnya.
Ketersediaan bahan bakunya juga mudah didapatkan. Keberadaan Desa Paring Raya yang secara geografis berada dekat Sungai Seruyan membuat ketersediaan ikan mudah didapatkan. Begitu juga dengan kelimpahan pohon hanau (enau) yang membuat produksi gula aren terus berjalan. Hanya saja ada tantangannya, kalau hujan turun semua bahan baku ini sulit didapatkan.

Hasil olahan Sanariah seperti abon, keripik pisang, dan gula aren bahannya dari sumber daya alam yang melimpah di sekitar Desa Paring Raya. Foto: Zulkifli M.
“Karena kondisi alam di sini masih bagus, jadi hasil yang didapatkan dari alam juga bisa bermanfaat bagi Masyarakat. Misalnya ekonomi masyarakat mulai terbantu,” tutupnya.
Kondisi alam di Paring Raya yang masih terjaga membuat ketersedian bahan baku terus ada, akan tetapi ancaman hilangnya sumber bahan baku ini terus mengintai. Misalnya keberadaan Perkebunan skala besar seperti sawit yang membuat beberapa Masyarakat terlena dan menjual lahan-lahan pribadi mereka kepada Perusahaan sawit dan akhirnya mereka menjadi buruh di atas tanahnya sendiri. Melihat kondisi realitas yang ada, Sebagian Masyarakat tersadarkan betapa pentingnya menjaga tanah, lahan, dan alam mereka tetap terjaga. Agar mereka dapat terus mempertahankan kehidupan dan social ekonomi di Tengah incaran investasi yang semakin merajalela.
Penulis: Zulkifli M.

